Ruang – ruang Strategis di Kampus

Secara umum, kampus diklasifikasikan menjadi dua jenis: kampus umum dan kampus agama. Seiring bertransformasinya banyak IAIN menjadi UIN yang mengadopsi banyak jurusan umum maka identifikasinya juga mengalami perubahan. Untuk selanjutnya, jenis kampus diklasifikasikan ke dalam tiga jenis: kampus umum, kampus agama, dan kampus agama-umum. Oleh karena masalah terbesar dari kaderisasi PMII adalah sulitnya melakukan kaderisasi di kampus atau fakultas umum maka tulisan di bawah ini akan menjelaskan signifikasi kaderisasi di kampus atau fakultas umum tersebut.

Sejak lama PMII berupaya untuk membangun kekuatan di kampus umum.Berbagai rekayasa dilakukan meskipun sejauh ini masih menghadapi tantangan yang kuat. Perekayasaan ini secara kasat mata terlihat dari background 17 Ketua Umum PB PMII di mana sembilan di antaranya berasal dari kampus umum, antara lain: Mahbub Djunaidi (UI), Ahmad Bagja (IKIP Jakarta/UNJ), Muhyidin Arubusman (Unija), M. Aqbal Assegaf (IPB), Ali Masykur Musa (Unej), Muhaimin Iskandar (UGM), Nusron Wahid (UI), A. Malik Haramain (Unmer), dan M. Rodli Kaelani (Unsrat), Aminuddin Ma’ruf (UNJ), M. Abdullah Syukri (UB). Selain upaya untuk memotivasi dan memperkuat kaderisasi PMII di kampus umum, perekayasaan tersebut bertujuan untuk mengakselerasi kader PMII di level kepemimpinan nasional karena dianggap memiliki modal sosial lebih.

Di tingkat lokal, perekayasaan ini belum bisa berjalan secara sempurna. Terdapat beberapa kendala di antaranya: 1) kampus umum belum dilihat sebagai arena rekrutmen yang perlu mendapat prioritas dari pengurus cabang; 2) kesulitan mempertahankan kader yang terekrut karena gagal mengadaptasi model kaderisasi yang tepat; 3) pendekatan melalui materi-materi kaderisasi formal PMII diasumsikan sarat dengan pendalaman pengetahuan keislaman bagi mereka yang sudah terkategori di atas pemula, dan; 4) dalam kontestasi perebutan struktur di lingkup cabang kerap kali terkalahkan karena posisinya minoritas. Akibatnya, terjadi kefrustasian berupa hilangnya motivasi berorganisasi karena akses masuk ke dalam struktur menjadi macet. Penguatan kampus umum harus dilihat sebagai sarana mereproduksi kader yang memiliki berbagai macam disiplin pengetahuan akademik.Untuk dapat mendudukkan kader di leading sectors maka mau tidak mau penguatan kampus umum menjadi prasyarat mutlak.Penguatan kampus umum bukan berarti menafikkan resources kader PMII yang berasal dari kampus agama tetapi harus dilihat semata-mata sebagai upaya memperkaya resources mengingat banyak kampus agama kini juga memiliki fakultas dan jurusan umum seperti di berbagai Universitas Islam Negeri.Keduanya harus sinergis.

1. Membaca Pesaing dan Penantang Pesaing (contender)

Secara tradisional PMII adalah organisasi ekstra kampus lainnya, yakni HMI, GMNI, IMM, GMKI, PMKRI, dan KAMMI. Dari sisi pengembangan kampus, yang cukup eksplosif hanya PMII dan KAMMI. Perbedaan yang cukup mencolok adalah bahwa PMII menguatkan jejaring kampus di berbagai kampus yang bertebaran di daerah (semi-peryphery & periphery) sementara KAMMI fokus memperkuat diri di kampus-kampus unggulan yang berada di kota-kota besar. Basis-basis kampus yang selama ini rutin dikuasai oleh HMI sudah mulai tergeser oleh KAMMI dan PMII. Hanya sedikit sekali basis PMII yang dapat digeser oleh organisasi lain. Demoralisasi serta integritas yang rendah baik dari kader dan alumni HMI menjadi penyebabnya. Nampaknya, ke depan hanya tinggal KAMMI yang menjadi pesaing utama karena kesungguhan mereka menggarap kampus-kampus unggulan. Sementara HMI, jika tumbuh kesadaran baru yang disertai dukungan alumninya maka ada kemungkinan mereka akan kembali ter-recovery. Kelemahan PMII di dalam pengembangan kampus umum sedikit demi sedikit telah berusaha di atasi. Di berbagai cabang tumbuh kesadaran dan telah melakukan sejumlah langkah untuk masuk maupun memperkuat kaderisasi di kampus-kampus umum unggulan di tingkat nasional maupun lokal. Jika proses ini terus berjalan baik maka output kader yang dimiliki akan memilki probabilitas yang cukup tinggi dalam upaya melakukan mobilitas vertikal. Selain organisasi-organisasi tadi, ada juga penantang (challenger) yang sangat potensial dalam menduduki jabatan di pemerintahan, legislatif, yudikatif, maupun berbagai lembaga negara lainnya. Untuk memudahkannya, mereka dilabeli istilah ‘kaum profesional non-ideologi’. Ciri-cirinya adalah mereka yang kuliah S1 di luar negeri, terutama di negara-negara Barat, karena kemampuan finansial keluarga. Secara umum mereka berlatar anak pejabat maupun anak pengusaha yang ketika kembali ke Indonesia dapat dengan cepat menduduki berbagai jabatan di dalam negara maupun perusahaan karena memiliki sejumlah kualifikasi yang dibutuhkan. Pengetahuan mereka akan sejarah, norma, dan nilai-nilai ke-Indonesia-an umumnya sangat dangkal. Kelompok inilah yang akan menjadi penantang utama kader-kader PMII di masa mendatang. Upaya untuk mengimbangi output kaderisasi KAMMI, HMI, GMNI, PMKRI, dan GMKI (contender) dan ‘kaum profesional non-ideologi’ (challenger) harus dilakukan dengan cara melakukan proses kaderisasi di berbagai universitas unggulan yang memiliki fakultas atau jurusan favorit. Selain itu, karena realitasnya sebagian besar kader-kader PMII berada di sebagian besar kampus non-qualified maka kader harus meng-upgrade kapasitasnya sesuai dengan disiplin akademiknya maupun dengan peningkatan skill non-akademik. Langkah berikutnya adalah dengan berusaha masuk kampus-kampus negeri unggulan saat menempuh jenjang pendidikan S2. Penguatan kampus umum dan umum-agama unggulan harus dilihat sebagai sarana mereproduksi kader yang memiliki pengetahuan dan keahlian dari berbagai macam disiplin akademik. Pentingnya input-outputresources ini dapat dilihat dari bagan berikut:

2.Proyeksi Penguatan Kampus Unggulan

Sejak kelahirannya, PMII sudah memiliki anggota/kader di kampus umum dan agama. Bahkan, kampus-kampus umum yang dimasuki oleh PMII di masa-masa awal merupakan kampus-kampus negeri unggulan meski dengan jumlah keanggotaan yang minim. Dalam perjalanannya, secara kuantitatif kader-kader PMII di kampus tersebut mengalami kondisi yang relatif stagnan atau eksistensinya lenyap. Hanya sebagian kecil di antaranya bisa berkembang. Kerja kreatif pengurus cabang dalam menghidu pkan kembali kaderisasi di kampus-kampus unggulan yang berada di bawah wilayahnya menjadi jalan utama yang harus ditempuh. Sebagai panduan, berikut ini adalah peta kampus umum unggulan di Indonesia versi Quacquerelli Symonds tahun 2013 berdasarkan enam indikator: academic reputation, employee reputation, faculty/student ratio, cititaions per faculty, international faculty, dan international students.

3.Model Rekrutmen

Hampir setiap kampus memiliki keunikan tersendiri jika dilihat dari kehidupan sosial seluruh civitas akademiknya. Tulisan di bawah ini tidak berlaku secara kaku melainkan hanya sekedar saran bagi segenap pengurus cabang, komisariat, maupun rayon ketika ingin melakukan penetrasi di berbagai kampus. Adapun model pendekatan seperti yang selama ini sudah dilakukan di tiap kampus mungkin saja tetap memiliki efektivitas dan karenanya tidak serta merta diabaikan. Sebelum melakukan penguatan kaderisasi di kampus umum ada baiknya melihat perbedaan karakteristik mahasiswa antara kampus agama dan umum sebagaimana yang terlihat di dalam gambar di bawah ini.

Tipologi mahasiswa

Kampus Agama

1. Kohesi sosial : solidaritas tinggi,  2. Strata Sosial : menengah ke bawah

3. Latar Pendidikan : MA/SMU Islam/ pondok pesantren, 4. Lingkungan sosial : rural

Kampus Umum :

1. Kohesi sosial : solidaritas rendah,  2. Strata Sosial : menengah ke atas

3. Latar Pendidikan : SMA/SMK Sederajat , 4. Lingkungan sosial : urban

Penggunaan tipologi di atas untuk fakultas-fakultas umum yang berada di dalam kampus agama punya kecenderungan yang sama dengan karakteristik kampus umum. Berdasarkan tipologi mahasiswa di atas maka berikutnya kita dapat melakukan upaya rekrutmen dengan skema segmentasi-targeting-positioning.

Segmentasi merupakan arena pembagian mahasiswa di dalam kampus yang heterogen ke dalam satuan-satuan yang bersifat homogen dilihat dari aspek geografis, demografis, dan psikografi. Setelah segmentasi membagi mahasiswa ke dalam identifikasi tertentu maka langkah berikutnya adalah melakukan targeting. Targeting merupakan merupakan usaha untuk mencapai tujuan yang diinginkan dalam sebuah proses kampanye pengenalan PMII berdasarkan masing-masing segmen. Untuk melakukan upaya ini perlu memperhatikan empat langkah sebagai berikut: 1) memperhitungkan segala sumber daya yang dimiliki dan dibutuhkan; 2) menganalisa kekuatan sumber daya kompetitor lain, dalam hal ini berupa organisasi eksta-universitas lainnya; 3) melakukan komparasi kekuatan dengan organisasi ekstra-universitas lainnya; 4) mengambil keputusan bentuk dan media pengenalan yang akan digunakan untuk membangun pencitraan atau image. Hasilnya adalah positioning yang membedakan PMII dengan kompetitor lainnya. Positioning merupakan suatu proses menempatkan PMII ke dalam pikiran mahasiswa Kampus Agama Kampus Umum Kohesi sosial solidaritas tinggi solidaritas rendah-menengah Strata sosial menengah-bawah menengah-atas Latar pendidikan MA/SMU Islam SMU/SMK Lingkungan sosial rural urban Orientasi pengetahuan non-eksakta non-eksakta dan eksakta Segmentation Positioning Targeting Taktik Rekrutmen sesuai dengan keinginan pengurus PMII. Untuk bisa menentukan positioning maka perlu menentukan karakteristik berupa added value yang dimiliki oleh PMII.

Berdasarkan kolom di atas maka brand awareness dalam positioning PMII di kampus umum adalah: berbakat di luar bidang akademik, rapih atau fashionable, cerdas, solidaritas tinggi atau punya semangat kolektivitas, menghargai ikatan komunal berdasarkan asal daerah atau etnik, berhaluan Islam-moderat dan menghargai pluralitas, menjalankan ritus keagamaan tertentu seperti tahlil atau ziarah, kritis, serta memiliki prestasi akademik di dalam dan luar kampus. Saat ini positioning PMII baru terbatas pada pemahaman Islam-moderat dan kekhasan dalam berbagai ritus ibadahnya. Untuk mencapai positioning maka dalam targeting perlu mendapatkan medium yang tepat berdasarkan pemetaan segmentasi yang sudah didapatkan

Penggunaan besaran targeting ditentukan oleh kapasitas resources yang dimiliki. Peningkatan jumlah targeting bisa dilakukan seiring dengan terjadinya proses penambahan resources. Cara yang paling sederhana jika kekuatan sangat minimal yakni:1) mencari alumni pesantren atau orang tua yang memiliki afiliasi keagamaan dengan NU. Cara ini bisa dilakukan melalui pendekatan kultural lewat jaringan alumni pesantren dan penilaian terhadap ritus keagamaan di masjid kampus. Khusus untuk mahasiswi bisa diidentifikasi dari jilbab yang dikenakannya; 2) jaringan pertemanan dalam satu sekolah umum; 3) mendorong produktivitas karya akademik kader-kader PMII yang sudah ada sehingga terlihat seperti achievement. Dorongan achievement ini diperlukan mengingat kebanyakan mahasiswa kampus umum berorientasi pada hasil. Kader PMII yang berprestasi akan menjadi magnet bagi teman seangkatan maupun junior-juniornya yang belum terekrut. Hal ini perlu dilakukan untuk mematahkan stigma bahwa aktif berorganisasi secara otomatis akan menghambat prestasi akademik. Di luar tahapan-tahapan di atas, ada baiknya melakukan upaya pra-rekrutmen. Pra-rekrutmen adalah proses pengenalan PMII di SMU atau MA favorit yang dapat dilakukan oleh pengurus cabang. Sekolah favorit biasanya menjadi pemasok mahasiswa di perguruan tinggi umum negeri. Terdapat dua cara yang dapat dilakukan. Pertama, dengan mengadakan program bimbingan belajar lulus UAN dan atau SPMB. Kedua, melibatkan perwakilan OSIS dalam kegiatan-kegiatan yang di selenggarakan oleh PMII misalnya dalam kegiatan diskusi publik. Biasanya, Mereka yang tergabung di dalam OSIS adalah siswa-siswi berprestasi dan mempunyai gairah berorganisasi yang tinggi. Setelah melakukan berbagai langkah di atas maka fase yang tidak kalah pelik adalah mempertahankan positioning. Mereka yang telah terekrut harus mendapat pembinaan yang terencana dan terukur sehingga positioning yang diharapkan dapat terbentuk dan bertahan. Program kegiatan hendaknya hanyak diprioritaskan pada dua hal besar: internalisasi nilai dan dorongan meraih prestasi. Adapun taktik pengembangannya adalah dengan mendorong berdiasporanya kader-kader PMII di berbagai klub studi/hobby, UKM, dan BEM sebagai sarana melakukan rekrutmen, mengakumulai pengetahuan akademik, menambah jejaring profesional dan alumni almamater, serta mewarnai (menginternalisasi) institusi dengan values PMII. Rekrutmen Aktif. Seluruh mahasiswa pada hakekatnya potensial untuk direkrut menjadi kader PMII. Namun, seringkali perekrutan hanya dinilai dari sisi kuantitas. Kalau dulu Soekarno menyatakan bahwa dengan sepuluh orang pemuda dapat mengguncang dunia maka tentu saja kesepuluhnya adalah pemuda dengan kapasitas luar biasa. Oleh karenanya, perlu ada pola khusus yang hendaknya dilakukan untuk mendapatkan calon kader yang memiliki modal sosial besar. Pengurus Rayon atau Komisariat sebaiknya melakukan monitoring terhadap mahasiswa yang memiliki kecakapan dan latarbelakang khusus untuk kemudian diusahakan terekrut.

Kecakapan • Prestasi akademik dan non-akademik • Memiliki ketrampilan, mis: berbakat dalam bidang seni atau dalam hal ini terutama dalam musik, kemampuan menulis dengan baik, menonjol di bidang olahraga/beladiri, dll. • Menempati jabatan strategis di organisasi intrakampus • Punya kemampuan untuk memobilisasi

Latar belakang keluarga : tokoh & kyai NU, tokoh masyarakat, Pejabat, pengusaha, akademisi

Tabel di atas hanya sekedar contoh. Mungkin akan ada beberapa pertanyaan terkait model rekrutmen aktif tersebut. Agar lebih jelas akan diuraikan sebagai berikut: Mengapa latarbelakang keluarga penting? Umumnya, dukungan keluarga dapat mengakselerasi kader melakukan mobilitas vertikal setelah lulus kuliah. Lingkungan keluarga berkontribusi besar dalam membentuk cara pandang, bersikap, dan pilihan dalam menjalani realitas. Secara kasat mata, hal ini dapat menjelaskan mengapa banyak orang yang berusia muda dapat menjadi pejabat di jajaran eksekutif, legislatif, atau bahkan pemimpin perusahaan. Apakah mahasiswa yang berlatarbelakang dari keluarga biasa tidak perlu direkrut? Tentu saja tidak. Banyak orang berlatarbelakang keluarga biasa dapat menempati berbagai posisi strategis di berbagai tempat. Mereka bemental diehard. Gejala ini bisa dibaca dari kecakapan yang dimiliki sebagaimana yang termaktub di dalam kolom di atas. Lantas, bagaimana jika yang terekrut tidak memenuhi kedua unsur di atas? Tidak masalah, meskipun probabilitasnya menjadi rendah. Proses kaderisasi yang baik akan menghasilkan output yang baik. Walaupun berlatarbelakang keluarga biasa dan keunggulan individual belum terlihat pada saat kuliah sangat mungkin akibat proses yang baik di kemudian hari dapat berkiprah maksimal.

Penguasaan organisasi intra-kampus Di hampir seluruh kampus, organisasi intra-universitas merupakan arena kontestasi mahasiswa yang tergabung dalam organisasi gerakan baik dalam sekup lokal kampus maupun ekstra-universitas. Di luar kedua kelompok tadi biasanya terdapat berbagai kelompok berbasis hobby, etnik, maupun atas dasar disiplin akademik di jurusan atau fakultas. Organisasi intra-kampus perlu dikuasai karena memiliki tiga aspek yang dapat membantu pengembangan PMII. Pertama, dari aspek finansial, organisasi ini mendapatkan biaya dari pihak kampus dalam menjalankan kegiatan-kegiatannya secara periodik. Kedua, dari aspek infrastruktur, organisasi ini memiliki sekretariat beserta perlengkapan kantor di dalam kampus. Ketiga, dari aspek legalitas, umumnya organisasi ini yang hanya boleh menjalankan berbagai kegiatan mahasiswa non-akademik di dalam kampus. Penguasaan organisasi intra-universitas sangat bergantung dengan kekuatan PMII atau, dalam kasus tertentu, kekuatan personal kader PMII. Mengkalkulasi kekuatan menjadi penting untuk dapat menentukan organisasi intra-universitas yang diproyeksikan untuk direbut yang dalam wujudnya berbentuk UKM, Himaju, BEM Fakultas, BEM kampus, dan DPM. Bila berhasil dikuasai maka pendanaan kegiatan PMII dapat disubsidi dari anggaran kampus melalui sisa anggaran kegiatan formal. Dari aspek infrastruktur dapat memanfaatkan fasilitas yang dimiliki oleh kampus, misalnya menjadikan sekretariat sebagai sarana untuk rapat dan berdiskusi kegiatan-kegiatan PMII. Adapun dari aspek legalitas, kegiatan-kegiatan yang dijalankan menjadi sarana sosialisasi kader-kader PMII. Dalam kegiatan-kegiatan formal tersebut dapat melihat dan menilai mahasiswa potensial yang sangat perlu untuk direkrut oleh PMII. Taktik penguasaan organisasi intra-universitas sesungguhnya dapat dijadikan ukuran sejauh mana tingkat penerimaan kualitas kepemimpinan dan ketrampilan berorganisasi kader-kader PMII bagi mahasiswa lainnya. Proses penempaan kepemimpinan akan menjadi berbeda mengingat tantangannya juga berbeda. Selain meningkatkan skill kepemimpinan dorongan untuk berada di organisasi intra-universitas bertujuan meningkatkan kompetensi berdasarkan potensi dan minat akademik.

 

Sumber :  PO PMII Hasil Muspimnas 2022 Tulangagung

Tentang Penulis

Muhamad Fadhil Ismayana

Manusia berjiwa Sosialis dan Kehidupan Realistis

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.