Review Buku : Islam Santuy Ala Gus Baha

Judul     : Islam santuy ala Gus Baha
Penulis  : Tim Harakah Id ; penyunting, M. Khoirul Huda, Hilmy Firdausy
Penerbit: PT. Harkis Zaman Baru

 

  • Sekilas Biografi Gus Baha

K.H. Ahmad Bahauddin, lebih dikenal sebagai Gus Baha, merupakan ulama Nahdlatul Ulama yang berasal dari Rembang. Ia dikenal sebagai salah satu ulama ahli tafsir yang memiliki pengetahuan mendalam seputar al-Qur’an. Ia merupakan salah satu murid dari ulama kharismatik, Kiai Maimun Zubair.

Poin penting yang saya dapat simpulkan dalam review buku ini, yaitu :

 

  • Bagian Pertama yaitu Nasab Ada Bukan Untuk Dibangga- Banggakan! Bagaimana Seharusnya Seseorang Menyikapi Silsilah Keturunannya?.

Gus Baha menjelaskan bahwasanya  jika kita mempunyai nasab yang bagus tidak untuk di jadikan kebanggaan terhadap kita, justru kita harus banyak bersyukur telah dikaruniai nasab yang bagus oleh Allah Swt.Kita harus selalu rendah hati terhadap orang lain jangan sampai nasab kita bagus, maka kita menjadi orang yang sombong. Justru jika sesedorang punya nasab yang bagus, maka jadikanlah itu sebagai motivasi & tolak ukur kita untuk lebih baik lagi kedepannya.Misalnya ayah kita seorang Kyai , maka jadikanlah itu sebagai motivasi untuk lebih baik kedepannya dan tidak sombong karena Syekh Mustafa al Ghulayani, ulama Libanon tahun 1930-an, yaitu pada kitab Idzotun Nasihin (Petuah Bagi Generasi Muda), pernah berkata:

ليس الفتى من يقول كان أبي، ولكن الفتى ها أنا ذ

Artinya : “Bukan dikatakan seorang pemuda atau pemimpin jika bicaranya membanggakan kehebatan orang tuanya atau manusia lainnya, tapi yang dikatakan dengan seorang pemuda atau pemimpin, yang bicara ini adalah Aku”.

 

  • Bagian Kedua yaitu Gus baha dan Persoalan-Persoalan Ibadah , Tetaplah Beribadah Meski Kamu Belum Bisa Meninggalkan Maksiat!

Gus Baha menjelaskan bahwasanya kita harus tetap semangat dalam beribadah walaupun kita terkadang masih melakukan maksiat, karena kita adalah manusia biasa yang tak luput dari kesalahan maupun dosan. Bahkan Gus Baha mendoakan mudah-mudahan dari semangatnya kita beribadah semakin lama kita bisa meninggalkan maksiat sepunuhnya, karena proses hijrahnya seseorang tidak langsung sempurna, ada tahapan-tahapannya , perlahan-lahan karena setiap orang memiliki karakteristik latar belakang yang berbeda. Oleh Karena itu kita tidak boleh menghakimi seseorang boleh jadi dia yang lebih baik dari kita.

Kemudian Gus baha menjelaskan persoalan Salat jangan lama-lama,Ngerusak Islam! Ulasan Gus baha tentang dimensi sosial dan aspek solidaritas dalam ibadah

Gus baha menambahkan satu riwayat hadits Nabi Muhammad SAW
ada kasus yang pernah terjadi di masa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Ada seorang sahabat yang memimpin shalat, lantas jamaah di belakangnya lari karena bacaan yang terlalu panjang.

Jabir radhiyallahu ‘anhu berkata,

صَلَّى مُعَاذُ بْنُ جَبَلٍ الأَنْصَارِىُّ لأَصْحَابِهِ الْعِشَاءَ فَطَوَّلَ عَلَيْهِمْ فَانْصَرَفَ رَجُلٌ مِنَّا فَصَلَّى فَأُخْبِرَ مُعَاذٌ عَنْهُ فَقَالَ إِنَّهُ مُنَافِقٌ. فَلَمَّا بَلَغَ ذَلِكَ الرَّجُلَ دَخَلَ عَلَى رَسُولِ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- فَأَخْبَرَهُ مَا قَالَ مُعَاذٌ فَقَالَ لَهُ النَّبِىُّ -صلى الله عليه وسلم- « أَتُرِيدُ أَنْ تَكُونَ فَتَّانًا يَا مُعَاذُ إِذَا أَمَمْتَ النَّاسَ فَاقْرَأْ بِالشَّمْسِ وَضُحَاهَا. وَسَبِّحِ اسْمَ رَبِّكَ الأَعْلَى. وَاقْرَأْ بِاسْمِ رَبِّكَ. وَاللَّيْلِ إِذَا يَغْشَى »

“Mu’adz bin Jabal Al-Anshari pernah memimpin shalat Isya. Ia pun memperpanjang bacaannya. Lantas ada seseorang di antara kami yang sengaja keluar dari jama’ah. Ia pun shalat sendirian. Mu’adz pun dikabarkan tentang keadaan orang tersebut. Mu’adz pun menyebutnya sebagai seorang munafik. Orang itu pun mendatangi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan mengabarkan pada beliau apa yang dikatakan oleh Mu’adz padanya. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam lantas menasehati Mu’adz, “Apakah engkau ingin membuat orang lari dari agama, wahai Mu’adz? Jika engkau mengimami orang-orang, bacalah surat Asy-Syams, Adh-Dhuha, Al-A’laa, Al-‘Alaq, atau Al-Lail.” (HR. Muslim no. 465)

Imam Nawawi menjelaskan bahwa hadits tersebut tetap menunjukkan adanya pengingkaran terhadap suatu yang dilarang. Walau yang dilanggar adalah suatu yang makruh, bukan suatu yang haram.

Hadits tersebut berisi pula penjelasan bolehnya mengingatkan orang lain dengan kata-kata.

Imam Nawawi melanjutkan, “Hadits di atas berisi penjelasan untuk meringankan shalat dan peringatan agar tidak memperlama shalat apalagi saat makmum tidak ridha (tidak suka) dengan lamanya shalat seperti itu.” (Syarh Shahih Muslim, 4: 164).

dari hadits di atas bahwasanya ketika kita menjadi imam salat harus adil & bijaksana, kita harus tau dimensi sosial dan aspek solidaritas dalam ibadah. Ketika kita menjadi imam salat kita tidak boleh seenaknya membaca surah yang panjang ,kita harus melihat kondisi jamaah terlebih dahulu apakah jamaahnya usia  50 keatas atau usianya dibawah itu, jangan sampai gara-gara imam salatnya membaca surah yang panjang itu membuat orang lain tidak mau salat berjamaah di mesjid dan itu merusak islam.

  • Bagian Ketiga Tips dari Gus Baha untuk meluaskan hati dan cara menghadapi orang yang menjengkelkan agar tidak emosi

Kebaikan Allah itu tidak hanya terbatas bagi hamba-Nya yang beriman saja, bahkan hamba-Nya yang menyekutukan-Nya sekalipun tetap diperlakukan baik oleh Allah. Dibuktikan dengan tetap diberikannya berbagai kenikmatan yang tidak pernah terhenti. Berdasar uraian tersebut, cukup bagi kita untuk meyakini bahwa Allah adalah Tuhan yang selalu baik. Karena Allah adalah Zat yang Maha Baik, maka Allah sangat menyukai segala kebaikan.Gus Baha melanjutkan uraiannya bahwa, seorang mukmin itu seharusnya yang diperhatikan bukanlah perlakuan manusia kepadanya, tetapi ridha Allah Swt. Jadi, baik orang lain berbuat baik kepadanya maupun tidak, maka itu tidak penting baginya. Karena yang lebih ia butuhkan dan yang terpenting baginya ialah ridho Allah Swt.

Sebagai contoh, yaitu ketika seorang profesor dibuat jengkel oleh seorang yang tak lulus SD. Apabila seorang profesor membalas perlakuan buruk seseorang yang tak lulus SD, maka ia justru terpengaruh. Padahal kalau ia sadar, dalam dunia akademik, profesor tentu lebih memiliki otoritas dan yang sepantasnya memberikan pengaruh. Maka dari itu, profesor tadi hanya perlu membalasnya dengan perlakuan baik saja, dengan harapan orang yang berbuat buruk kepadanya bisa menjadi baik.

Kemudian, apabila kita memiliki teman yang berbuat buruk kepada kita, tetapi kita membalas perlakuannya dengan perlakuan buruk lagi, maka sama artinya kita terprovokasi oleh orang yang kelakuannya buruk. Apabila seperti itu, maka apa bedanya kita dengan mereka. Bukankah sama-sama menjadi buruk?

Resep yang disampaikan oleh Gus Baha di atas tentunya bukanlah konsep yang beliau karang sendiri. Secara tegas, Gus Baha menyebutkan bahwa konsep tersebut beliau sarikan dari sabda Nabi Muhammad Saw.

صِلْ مَنْ قَطَعَكَ وَ أَحْسِنْ إِلَى مَنْ أَسَاءَ إِلَيْكَ وَقُلِ الْحَقَّ وَلَوْ عَلَى نَفْسِكَ

“Sambunglah orang yang telah memutus tali silaturrahim padamu, berbuat baiklah kepada orang yang telah berbuat buruk kepadamu dan katakanlah kebenaran meski terhadap dirimu sendiri.” (H.R. Muslim)

Berbuat baik kepada semua orang ini juga dicontohkan dengan sikap Imam Ahmad bin Hanbal, sebagaimana disebutkan dalam kitab Ihya’ Ulumuddin. Suatu hari Imam Ahmad diundang untuk datang ke rumah tetangganya, tetapi ketika datang, ternyata tidak ada keperluan apa-apa. Hingga pada undangan ketiga, Imam Ahmad tetap saja datang tanpa merasa dipermainkan, meski tanpa keperluan yang jelas dari tetangganya.

Setelah tejadi berulang-ulang, tetangga Imam Ahmad pun heran dengan beliau. Bagaimana bisa, beliau tetap memenuhi undangan, padahal tujuannya hanya dipermainkan. Dan, itu terjadi tak hanya sekali. Tetangga itu pun menanyakan kegelisahannya.

  • Bagian Keempat Gus Baha dan Persoalan-persoalan Ilmu, Perbedaan Ilmu Umum dan Ilmu Agama ity sebenarnya tidak ada! pandangan Gus Baha tentang dikotomi Ilmu Pengetahuan.

Seiring perkembangan ilmu pengetahuan, tercetuslah berbagai cabang ilmu baru, yang tidak lain merupakan pecahan atau pengkategorian secara lebih rinci dari cabang ilmu lain. Bahkan tak sedikit juga yang membagi-bagi (baca: mendikotomi) menjadi ilmu agama dan ilmu umum. Karena dalam beberapa aspek, keduanya seakan saling bertentangan.

Merujuk Kamus Besar Bahasa Indonesa (KBBI), dikotomi adalah pembagian atas dua kelompok yang saling bententangan. Berdasar pengertian tersebut, dapat dimengerti bahwasanya dikotomi ilmu pengetahuan ialah suatu pembagian ilmu pengetahuan yang seakan tidak saling berkaitan, bahkan dianggap saling bertentangan. Dalam hal ini, pada akhirnya ada yang dikelompokkan sebagai ilmu agama dan ilmu umum.

Di beberapa kali kesempatan, Gus Baha ngomong problem dikotomi ilmu. Ketika membahas tentang pembedaan ilmu pengetahuan, secara ringkas, Gus Baha menyatakan bahwa semua yang ada di alam raya ini tidak bisa untuk dipisah-pisahkan. Karena semua yang ada di dunia tentu saling berhubungan. “Sebenarnya dikotomi (ilmu pengetahuan) itu memang tidak pernah ada,” tegas Gus Baha.

Apabila merujuk Al-Qur’an dan hadis, tidak ada yang bisa mendukung perilaku mendikotomi ilmu pengetahuan. Artinya, tidak ada yang disebut dengan ilmu agama saja dan ilmu umum saja. Karena baik ilmu yang disebut dengan ilmu umum sekali pun, sebenarnya juga telah dibahas dalam Al-Qur’an. Meski penjelasannya dalam Al-Qur’an tidak secara mendetail.

Ketika Gus Baha ngomong problem dikotomi ilmu, untuk menguatkan argumen tentang tidak adanya dikotomi ilmu pengetahuan dalam Al-Qur’an, Gus Baha memberikan sekian contoh terkait hal tersebut. Di antaranya ialah menyangkut ilmu astronomi, yang apabila di pesantren lebih dikenal dengan ilmu falak.

Allah Swt. berfirman dalam Al-Qur’an surah Yunus [10] ayat 5,

هُوَ ٱلَّذِی جَعَلَ ٱلشَّمۡسَ ضِیَاۤء وَٱلۡقَمَرَ نُورا وَقَدَّرَهُۥ مَنَازِلَ لِتَعۡلَمُوا۟ عَدَدَ ٱلسِّنِینَ وَٱلۡحِسَابَ

“Dialah yang menjadikan matahari bersinar dan bulan bercahaya, dan Dialah yang menetapkan tempat-tempat orbitnya, supaya kalian mengetahui bilangan tahun, dan perhitungan (waktu).” [Q.S. Yunus (10): 5]

Apabila diperhatikan, ayat di atas secara jelas berbicara tentang matahari dan bulan, yang mana dapat digunakan sebagai petunjuk untuk mengetahui bilangan tahun dan perhitungan waktu. Di dunia akademik, ilmu yang mempelajari tentang hal itu disebut sebagai ilmu astronomi, sebagaimana di Barat. Akan tetapi di pesantren, ilmu itu disebut sebagai ilmu falak. Bahkan tidkk sedikit kiai pesantren yang masyhur sebagai ilmu falak, sebut saja seperti K.H. Turaican Adjhuri dari Kudus.

Apakah kedua ilmu tersebut bertentangan? Tentu tidak bertentangan. Lantas mengapa jika ilmu falak dapat dikategorikan sebagai ilmu agama, tetapi ilmu astronomi hanya disebut sebagai ilmu umum? Padahal Allah sudah jelas-jelas menyebutkannya di dalam Al-Qur’an.

“Artinya, kalau yang dikatakan Al-Qur’an pasti itu ilmu agama dong. Tetapi dalam disiplin ini (dikotomi), hanya disebut sebagai ilmu umum,” tutur Gus Baha.

Selain contoh di atas, Gus Baha juga memberikan contoh lain, yaitu pembahasan tentang konstruksi bumi. Allah Swt. berfirman dalam surah Ar-Ra’d [13] ayat 4,

وَفِی ٱلۡأَرۡضِ قِطَع  مُّتَجَاوِرَات

“Dan di bumi terdapat lempengan-lempengan yang saling berdampingan.” [Q.S. Ar-Ra’d (13): 4]

Melalui ayat di atas, Al-Qur’an sebenarnya sudah menyebutkan bahwa bumi itu tersusun atas lempengan-lempengan yang saling berdampingan. Sebagaimana diketahui, bahwasanya bumi itu diciptakan tidak berupa satu elemen saja, tetapi terdiri dari lempengan-lempengan. Oleh karenanya, ketika terjadi pergeseran lempeng bumi, maka dapat menjadi pemicu terjadinya gempa bumi.

Menurut Gus Baha, dikotomi ilmu pengetahuan menjadi ilmu agama dan ilmu umum itu sebenarnya berasal dari pengidentikan pada keduanya. Yaitu ketika ilmu agama hanya diidentikkan dengan ilmu-ilmu menyangkut shalat, zakat dan lain sebagainya. Sedangkan sisanya, yang berkaitan dengan alam, hanya diidentikkan sebagai ilmu umum. Sehingga ketika dikatakan ilmu umum, maka tidak termasuk ilmu agama. Ketika dikatakan ilmu agama, maka tidak bisa disebut sebagai ilmu umum.

  • Bagian Kelima Gus Baha dan Persoalan Gerakan Islam, Pandangan Gus Baha terhadap Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) yang telah dibubarkan , Namun demikian aktivisnya terus melanjutkan agenda propaganda ideologisnya.

Sekalipun organisasi Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) sudah dibubarkan, tetapi para aktivisnya terus bekerja keras menyuarakan pendapatnya di muka umum. Baik secara online maupun offline. Mereka menggunakan berbagai nama yang berbeda-beda. Tetapi inti kegiatannya satu, kampanye khilafah.

Dalam memandang organisasi ini, sangat perlu kita berfikir esensialis. Ini seperti yang dilakukan oleh Gus Baha’ dalam memandang banyak hal.

Suatu ketika, Gus Baha’ pernah mengulas tentang Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) dalam satu pengajiannya. Menurutnya, organisasi apa pun sejatinya hanya bersifat musiman. Artinya, organisasi itu tidak akan berlangsung lama. Dan benar saja, HTI belum lama berkampanye, sudah punya musuh, lalu bubar.

HTI adalah organisasi yang mempunyai misi menyatukan umat Islam. Sebuah cita-cita yang secara teori baik. Tapi yang perlu diingat, HTI bukan satu-satunya. Sudah banyak organisasi yang berdiri dengan misi serupa. Termasuk di dalamnya Nahdhatul Ulama (NU), Muhammadiyah, atau Ikhwanul Muslimin di Mesir, dan Partai Ba’ts di Iraq.

Dalam banyak kesempatan, organisasi-organisasi itu selalu menyuarakan persatuan umat Islam. Misalnya dengan menyitir ayat al-Qur’an, “Wa’tashimu bihablillahi jami’a wala tafarraqu, dan berpegangteguhlah pada tali agama Allah dan janganlah berpecah-belah”.

Dengan menggunakan ayat yang sama mereka mengajak umat Islam bersatu dan tidak berpecah-belah. Lucunya, ajakan tersebut mereka sampaikan dengan mengatasnamakan organisasi. Sementara keberadaan organisasi itu sendiri adalah bukti adanya perpecahan di antara umat.

Dengan kata lain, pengikut HTI berkoar-koar mengajak umat Islam bersatu, padahal diri mereka sendiri adalah bukti perpecahan di antara umat Islam.

Menurut Gus Baha’, jika orang-orang HTI legowo, harusnya mereka tidak usah mendirikan organisasi. Tinggal bergabung saja dengan wadah yang sudah ada. Entah ikut NU atau Muhammadiyah. Sebab cita-citanya sama, yaitu menyatukan umat Islam.

“Dengan membuat organisasi sendiri, dengan nama sendiri, itu sudah menambah jumlah perpecahan,” demikian kata Gus Baha’.

Gambarannya begini. Kalau yang ada hanya NU dan Muhammadiyah, perpecahan di kalangan umat Islam Indonesia hanya dua kelompok. Tapi dengan mendirikan HTI maka perpecahan itu menjadi tiga. Semakin banyak pecahnya maka semakin sulit bersatunya.

Di sinilah terkadang seseorang harus mawas diri. Terkadang perilakunya belum sesuai tuntunan Al-Quran tetapi menuduh pihak lain tidak memperjuangkan tuntunan Al-Quran. Mengajak umat Islam bersatu, tetapi dalam kenyataannya justru menjadi alat pemecah belah.

Demikian penjelasan singkat tentang pandangan Gus Baha’ terhadap Hizbut Tahrir Indonesia (HTI).

 

Kesimpulan

Gus Baha adalah ulama yang selalu mengampanyekan kalau beragama itu mudah dan bahagia. Orang yang punya tuhan dan beragama juga harus tetap santai dan rileks, termasuk juga dalam melakukan ritual-ritual peribadatan. Gus Baha menganggap, aneh rasanya orang punya Tuhan tapi hidupnya justru emosian, sering kecewa dan terlalu serius. Dalam lingkaran-lingkaran pengajian Gus Baha, tawa bahagia tidak pernah tidak terdengar dan tergelak dari rona wajah dan mulut jamaahnya. Agenda Gus Baha untuk menciptakan Mazhab Islam Bahagia dan Mudah adalah garis besar pesan yang hendak oleh buku ini. Jadi, membaca buku ini harus dengan senyum dan perasaan bahagia.Selamat Beragama dengan kebahagiaan.

sumber :

https://id.wikipedia.org/wiki/Ahmad_Bahauddin_Nursalim

https ://harakah.id

 

 

 

Tentang Penulis

Sahabat Fadhil

Mahasiswa Hedonis yang Berjiwa Aktivis

Komentar

  1. Review-nya bernas, membantu pembaca untuk mendalami isi buku secara lengkap. Ke depan, Anda tinggal memperbaiki sistematika penulisan supaya tidak terkesan review akademis. Semangat

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.