Review Buku : Urusan Laut Jangan Dibawa Ke Darat

 

Judul     : Urusan Laut Jangan Dibawa Ke Darat

Penulis  : Emha Ainun Nadjib (Caknun)

Penerbit: Narasi

ISBN: 978-602-12-0

 

Sekilas Biografi Si Penulis EMHA AINUN NADJIB, lahir pada 27 Mei 1953 di Jombang, Jawa Timur. Pernah meguru di Pondok Pesantren Gontor, dan “singgah” di Fakultas Ekonomi Universitas Gadjah Mada. Emha Ainun Nadjib merupakan cendekiawan sekaligus budayawan yang piawai dalam menggagas dan menoreh katakata. Tulisan-tulisannya, baik esai, kolom, cerpen, dan puisi-puisinya banyak menghiasi pelbagai media cetak terkemuka. Pada 1980-an aktif mengikuti kegiatan kesenian internasional, seperti Lokakarya Teater di Filipina (1980); International Writing Program di Universitas Iowa, Iowa City, AS (1984); Festival Penyair Internasional di Rotterdam, Belanda (1984); serta Festival Horizonte III di Berlin Barat, Jerman Barat (1985). Cukup banyak dari karya-karyanya, baik sajak maupun esai, yang telah dibukukan. Di antara sajak yang telah terbit, antara lain “M” Frustasi (1976), Sajak Sepanjang Jalan (1978), Syair Lautan Jilbab (1989), Seribu Masjid Satu Jumlahnya (1990), dan Cahaya Maha Cahaya (1991). Adapun kumpulan esainya yang telah diterbitkan oleh Bentang Pustaka, antara lain Arus Bawah (2014), Anggukan Ritmis Kaki Pak Kiai (2015 dan 2018), Gelandangan di Kampung Sendiri (2015 dan 2018), Sedang Tuhan pun Cemburu (2015 dan 2018), 99 untuk Tuhanku (2015), Istriku Seribu (2015), Kagum kepada Orang Indonesia (2015), Orang Maiyah (2015) Titik Nadir Demokrasi (2016), Tidak. Jibril Tidak Pensiun! (2016), Daur I: Anak Asuh Bernama Indonesia (2017), Daur II: Iblis Tidak Butuh Pengikut (2017), Daur III: Mencari Buah Simalakama (2017), Daur IV: Kapal Nuh Abad 21 (2017), Kiai Hologram (2018), Pemimpin yang Tuhan (2018), Markesot Belajar Ngaji (2019), Siapa Sebenarnya Markesot? (2019), Sinau Bareng Markesot (2019), Lockdown 309 Tahun (2020), dan Apa yang Benar Bukan Siapa yang Benar (2020).

 

Deskripsi Buku ini : Kisah Caknun dengan Jin

Caknun :”Jin jangan ganggu anak ini,dia belum kuat,jadi kamu ikut saya saja, Nanti kamu saya beri makan yang kamu inginkan”.

Jin itupun keluar dari tubuh orang yang dirasukinya dan pergi mengikuti Cak Nun.

Cak Nun :”Sate padang kepalamu, makan angkringan saja kadang-kadang,saya tidak punya uang,seenaknya sendiri,ada jin minta makan sama manusia.

Jin :”Hahaha,,, Sampeyan itu lho Cak, sampeyan lucu sekali, hahaha.

Melalui buku ini kita diajak Sinau Bareng atau Maiyahan untuk menyentuh sisi lain dari makhluk yang bernama manusia.Sisi lain itu berupa kebutuhan akan kesegaran agar kita bisa menikmati keluasan hidup yang dianugrahkan Tuhan. Sejatinya ilmu itu sangat dibutuhkan manusia untuk menjalani kehidupan di dunia ini dengan liku-likunya. Maka tepatlah bagi manusia untuk selalu belajar agar ilmu itu dapat diraih dan diamalkan. Dan inilah salah satu manfaat yang dapat di petik dari Sinau Bareng Cak Nun. Kita yang hadir dapat membawa pulang apa saja yang mungkin menjadi persentuhan dengan kebutuhannya secara langsung, serta bisa membagikannya kepada keluarga, teman, atau lingkaran lebih luas.Demikian pula dengan buku ini, membawa pulang dari Sinau Bareng berupa sejumlah cerita atau kisah yang segar yang muncul di dalam obrolan di panggung Sinau Bareng. Di dalam Sinau Bareng munculnya cerita-cerita itu dirasakan dan disyukuri demi mendukung berjalannya kita kembali menuju manusia yang utuh, lengkap, dan luas.

Keutuhan itu sendiri barangkali cermin dari diri manusia, dan dari sini kita melihat Sinau Bareng bukanlah penggalan yang biasa disematkan sebagai label pada umumnya acara seperti hiburan, pengajian, diskusi, penampilan, pementasan, atau yang Iainnya. Penggalan-penggalan itu bukan berarti tidak ada di dalam menu Sinau Bareng, tetapi semuanya berposisi sebagai bagian-bagian, yang disifati oleh: saling berkaitan, saling memberi konteks. Kalau boleh dibilang, Sinau Bareng ini berupaya menghadirkan sesuatu seproyeksi dengan keutuhan manusia itu sendiri.

Buku ini memuat petikan kisah-kisah humor sebagai lompatan logika Cak Nun dalam memandang perosalan hidup manusia, dengan gaya bahasa yang mudah untuk di pahami dan penuh kisah humor yang membuat para pembaca tidak bosan untuk membacanya.

 

Point Penting yang dapat saya simpulkan dalam review buku ini, yaitu:

  1. Kita adalah manusia biasa yang tak luput dari kesalahan & dosa,Allah Swt telah memberi kesempatan kepada kita untuk hidup di dunia ini dengan penuh kasih sayang,saling menghormati,saling menghargai. Si Penulis mengajak kepada kita agar hidup itu mudah jangan dibawa ribet, jangan bawa urusan orang lain ke dalam diri kita ,fokus saja kita untuk meningkatkan diri kepada Tuhan & kebiasaan yang produktif. Jangan mengurusi hidup orang lain ,cukup saja urusi hidup kita sendiri seberapa banyak kita bermanfaat bagi orang lain
  2. Si Penulis mengajak kepada kita agar menjalani hidup ini dengan mudah,santai & penuh humor,jangan menjadi orang yang selalu serius ketika menghadapi suatu masalah.Oleh karena itu  kita diajak agar selalu bersikap bijak dalam menghadapi suatu masalah.
  3. Si penulis mengajak kepada kita agar selalu bersyukur atas nikmat yang telah diberikan oleh Tuhan.Kita bernafas saja sudah nikmat sekali, berapa banyak manusia di luar sana yang lebih membutuhkan oksigen ungtuk bernafas. Kita bisa melihat saja sudah nikmat sekali, berapa banyak manusia di luar sana yang tidak bisa melihat karena sakit dll. Setiap langkah kita dimanapun & kapanpun kita harus bersyukur atas nikmat yang diberikan oleh Tuhan, jikalau kita menghitung nikmat tuhan ,maka kita tidak akan bisa menghitungnya,karena nikmat tuhan itu luas dan tiada batasnya.

 

Kesimpulan

Dari Kisah-kisah yang di ceritakan oleh Si penulis (Cak Nun) saya sangat terinpirasi & termotivasi agar mensyukuri hidup, hidup ini jangan dibawa ribet,jalani saja dengan mudah,santai & penuh humor , urusan orang lain jangan dibawa kedalam diri kita, kita hidup harus bermanfaat bagi orang banyak,& sesama manusia saling memaafkan,saling menghormati & tolong-menolong terhadap sesama.

Quran Surat Al-Hadid Ayat 20
ٱعْلَمُوٓا۟ أَنَّمَا ٱلْحَيَوٰةُ ٱلدُّنْيَا لَعِبٌ وَلَهْوٌ وَزِينَةٌ وَتَفَاخُرٌۢ بَيْنَكُمْ وَتَكَاثُرٌ فِى ٱلْأَمْوَٰلِ وَٱلْأَوْلَٰدِ ۖ كَمَثَلِ غَيْثٍ أَعْجَبَ ٱلْكُفَّارَ نَبَاتُهُۥ ثُمَّ يَهِيجُ فَتَرَىٰهُ مُصْفَرًّا ثُمَّ يَكُونُ حُطَٰمًا ۖ وَفِى
ٱلْءَاخِرَةِ عَذَابٌ شَدِيدٌ وَمَغْفِرَةٌ مِّنَ ٱللَّهِ وَرِضْوَٰنٌ ۚ وَمَا ٱلْحَيَوٰةُ ٱلدُّنْيَآ إِلَّا مَتَٰعُ ٱلْغُرُورِ

Artinya: “ Ketahuilah, bahwa sesungguhnya kehidupan dunia ini hanyalah permainan dan suatu yang melalaikan, perhiasan dan bermegah-megah antara kamu serta berbangga-banggaan tentang banyaknya harta dan anak, seperti hujan yang tanam-tanamannya mengagumkan para petani; kemudian tanaman itu menjadi kering dan kamu lihat warnanya kuning kemudian menjadi hancur. Dan di akhirat (nanti) ada azab yang keras dan ampunan dari Allah serta keridhaan-Nya. Dan kehidupan dunia ini tidak lain hanyalah kesenangan yang menipu.

Referensi: https://tafsirweb.com/10716-quran-surat-al-hadid-ayat-20.html

Tentang Penulis

Sahabat Fadhil

Mahasiswa Hedonis yang Berjiwa Aktivis

Komentar

  1. Membaca itu membawa kita bersentuhan dengan berbagai perspektif penulis. Di luar setuju atau tidak setuju, intensitas kita untuk bersentuhan dengan perspektif yang beragam akan membawa diri kita semakin bijaksana. Semakin banyak membaca buku harus dia makin bijak dalam bersikap dan bertindak. Itulah arti dasar dari intelektualitas

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.