Filsafat Pendidikan Paulo Freire

Sumber gambar : Google.com

Sekilas Biografi Paulo Freire

Paulo Freire adalah seorang tokoh pendidikan Brasil dan teoretikus pendidikan yang berpengaruh di dunia. Wikipedia
Kelahiran: 19 September 1921, Recife, Pernambuco, Brasil
Meninggal: 2 Mei 1997, Sao Paolo, São Paulo, Brasil
Pendidikan: Recife Law School
Anak: Lutgardes Costa Freire, María de Fátima Costa Freire, LAINNYA
Pasangan: Maria Freire (m. 1988–1997), Elza Freire (m. 1944–1986)
Orang tua: Edeltrudes Neves Freire, Joaquim Temístocles Freire
1. Kritik Freire terhadap sekolah
Melatih orang untuk bekerja. jikalau sekolah hanya bertujuan bekerja itu tidak mendasar sejatinya pendidikan itu memanusiakan manusia.
Menjelaskan status seseorang dalam masyarakat dan apa yang diharapkan dari mereka
“Biasanya kita menekankan pentingnya pendidikan bagi masyarakat. Namun kalau pendidikan berfungsi melanggengkan tatanan masyarakat, dimana pendidikan itu sendiri ada di dalamnya,
Bagaimana seandainya masyarakat itu berstruktur ‘tidak adil”
2. PENDIDIKAN GAYA KOLONIAL

  • Sekolah merefleksikan kepentingan para penjajah
  • Aspirasi dan kebutuhan mereka yang dijajah biasanya diabaikan
  • Kelompok penjajah biasanya mengungkap nilai-nilai dan
  • budaya masyarakat terjajah dan menegaskan superioritas mereka
  • Dalam sistem Pendidikan kolonial, seseorang diasingkan dari budaya aslinya
  • “Colonized people are directed; they do not direct
    themselves”

3. Pedagogy of the Oppressed (1970)

  • Memperjuangkan kesetaraan dalam sistem pendidikan
  • Memberikan dedikasi untuk mereka yang tertindas
  • Sistem Pendidikan yang menekankan pembelajaran sebagai aksí kultural dan pembebasan
  • Banking education
  • Conscientization-membentūk kesadaran individu dan masyarakat

4. PENDIDIKAN SEBAGAI PRAKSIS PEMBEBASAN

  • Pendidikan yang ideal, seharusnya berorientasi kepada nilai-nilai humanisme (mengembalikan kodrat manusia menjadi pelaku atau subyek, bukan penderita atau objek).
  • Pendidikan seharusnya menjadi kekuatan penyadar dan pembebas umat manusia dari kondisi ketertindasan.
  • Proses belajar hendaknya berbentuk “investigasi kenya taan'” Maksudnya, proses pendidikan itu melibatkan indentifikasi permasalahan yang terjadi di masyarakat. Konteks pendidikan negara agraris misalnya,
    kurikulum pendidikannya juga harus melibatkan realitas permasalahan pertanan di dalamya.
  • Pendidikan yang dialogis dengan yang tertindas dapat menuntun pada dunia yang lebih manusiawi

5. BANKING EDUCATION

  • “Pendidikan akhirnya menjadi sebuah kegiatan menabung di mana para murid adalah celengan dan guru adalah penabungnya. Yang terjadi bukanlah proses komunikasi, tetapi guru menyampatkan pernyataan-pernyataan dan “mengisi tabungan yang diterima, dihafal dan diulangi dengan patuh oleh para murid”
  • Praktek pendidikan hanya dipahami sebatas sarana pewarisan ilmu . Pendidikan tidak peduli pada proses pendewasaan pemikiran dan tidak mampu mengkritisi realitas sosial yang ada di lingkungan sekitar.
  • “Dalam konsep pendidikan gaya bank, pengetahuan merupakan sebuah anugrah yang dihibahkan oleh mereka yang menganggap diri berpengetahuan kepada mereka yang dianggap tidak memiliki pengetahuan apa-apa.

6. Ciri Pendidikan Gaya Bank 

  • Guru mengajar, murid belajar
  • Guru memilih apa yang akan diajarkan, murid menyesuaikan diri.
  • Guru tahu segalanya, murid tidak tahu apa-apa
  • Guru berpikir, murid dipikirkan
  • Guru mengedepankan wewenang
  • Guru bicara, murid mendengarkan
  • Guru mengatur, murid diatur.
  • Guru memilih dan memaksakan pilihannya, murid menuruti
  • Guru bertindak, murid meniru Guru
  • Guru mengedpankan wewenang ilmu pengetahuan dengan wewenang profesionalismenya dan mempertentangkannya dengan kebebasan murid-murid.
  • Guru adalah subyek proses belajar, murid obyeknya.

Kata Freire : “The teacher is of course an artist, but being an artist does not mean that he or she can make the
profile, can shape the students. What the educator does in teaching is to make it possible for
the students to become themselves.”(Guru tentu saja seorang seniman, tetapi menjadi seorang artis tidak berarti bahwa dia dapat membuat profil, dapat membentuk siswa. apa yang dilakukan pendidik dalam mengajar adalah untuk memungkinkan siswa untuk menjadi dirinya sendiri.)

Contoh ilustrasi freire terhadap pendidikan

 

SOLUSI: PROBLEM POSSiNG EOUCATION
  • Pendidikan “hadap-masalah”: Manusia sendirilah yang dijadikan sebagai titik tolak dalam pendidikan.
  • Manusia tidak mengada secara terpisah dari dunia dan realitasnya, tetapi ia berada dalam dunia dan bersama-sama dengan realitas dunia. Realitas itulah yang harus diperhadapkan pada peserta didik supaya ada kesadaran akan realitas itu.
  • Kesadaran akan tumbuh dari pergumulan dengan realitas yang dihadapi dan diharapkan akan menghasilkan suatu tingkah laku kritis dalam diri mereka.

Kata Freire : “In problem-posing education, people develop their power to perceive critically the way they exist in the world with which and in which they find themselves; they come fo see the world not as a static reality, but as a reality in process, in fransformation.”
(Dalam pendidikan hadap masalah, orang mengembangkan kekuatan mereka untuk memahami secara kritis cara mereka ada di dunia yang dengannya dan di mana mereka menemukan diri mereka sendiri; mereka datang untuk melihat dunia bukan sebagai realitas statis, tetapi sebagai realitas dalam proses, dalam transformasi.)

HALANGAN: ADANYA PENINDAS DAN TERTINDAS
ADANYA KEBUDAYAAN BISU

  • Dalam kebudayaan bisu, kaum tertindas hanya menerima begitu saja segala perlakuan dari kaum penindas. Bahkan, ada ketakutan pada kaum tertindas akan adanya kesa daran tentang ketertindasan mereka.
  • Diam atau bisu dalam hal ini bukan karena protes atas perlakuan yang tidak adil, tetapi karena mereka memang bisu atau dibisukan, bukan membisu. Mereka memang tidak tahu apa-apa.
  • Untuk itu, perlu pendidikan yang dapat membebaskan dan memberdayakan, vatu pendidikan vang membuat yang tertindas dapat mendengar suaranya vang asli. Pendidikan yang relevan dalam masyarakat berbudaya bisu adalah mengajar untuk memampukan mereka mendengarkan suaranya sendiri dan bukan suara dari luar termasuk suara sang pendidik.

Kata freire : it is only the oppressed who, by freeing themselves, can free their oppressors.
(hanya kaum tertindas yang, dengan membebaskan diri mereka sendiri, dapat membebaskan para penindas mereka)

“The oppressed, instead of strving for libaration, tend themselves to become oppressors”

 

CONSCIENTIZATION! CONSCIENTIZAÇAO/
CONSCIOUSNESS RAISING/ CRITICAL CONSCIOUSNESS. 

1- Kesadaran Magis

Orang yang masih dalam tingkat kesadaran magis terperangkap dalam “mitos inferioritas alamiah”. Bukannya melawan atau mengubah realitas di mana mereka hidup, mereka justru menyesuaikan diri dengan realitas yang ada. Kesadaran magis dicirikan dengan fatalisme, yang menyebabkan manusia membisu, menceburkan diri ke lembah kemustahilan untuk melawan kekuasaan
Freire: “Mereka mengetahui bahwa mereka melakukan sesuatu, apa yang tidak diketahui adalah tindakan untuk mengubah”. Disini penindas, melakukan dehumanisasi, mencegah orang-orang dari penamaan masalah-masalah, sehingga mereka tetap terikat dengan penjelasan maqis dan membatasi kegiatan-keqiatannya sekedar menerima
secara pasif.

2.Kesadaran Naif

Masyarakat sudah mampu merefleksikan dirinya, sadar akan keadaannya namun belum dapat bicara atas nama kepentingannya. Dalam tahap ini, masyarakat sadar bahwa dirinya (atau masyarakat dan negaranya) berada dalam kondisi belum mandiri. Kesadaran ini ditandai dengan sikap yang naif, seperti kembali ke masa lampau, mau menerima penjelasan yang sudah jadi, emosi kuat, banyak berpolemik dan berdebat tetapi bukan dialog .
Orang pada tingkat kesadaran naif menyederhanakan masalah dengan cara menimpakan penyebabnya pada individu individu bukan pada sistem itu sendiri.

3. Kesadaran kritis 
Kedalaman menafsirkan masalah-masalah, percaya diri dalam berdiskusi, mampu menerima dan menolak. Pembicaraan bersifat dialog. Pada tingkat ini orang mampu merefleksi dan melihat hubungan sebab akibat.
Isu yang muncul adalah perubahan sistem yang tidak adil, bukannya Isu pembaharuan atau penghancuran individu-individu tertentu. Proses perubahan ini memiliki dua aspek: (1) penegasan diri dan penolakan untuk menjadi
pelanggeng status quo yang menindas, dan (2) berusaha secara sadar dan empiris untuk mengganti sistem yang menihdas dengan sistem yang adil dan bisa mereka kuasai. Tidak seperti kesadaran naif, individu ini tidak menyalahkan inidividu- individu, tetapi justru menunjukkan pemahaman yang benar atas dirinya sendiri dan sistem yang memaksa tertindas dan penindas berkolusi.

4. Kata Freire ada kesadaran yang lebih membahayakan “KESADARAN FANATIK”.

  • Terletak di antara kesadaran naif dan kesadaran kritis mem masyarakat lebih jauh dari realitas.
    Yang ditekankan: masifikasi, dan tujuannya adalah perubahan tetapi bukan transformasi.
  • Tujuan perubahan. menghancurkan penindas, lalu mengganti penindasnya dengan penindas lain
  • Melalui masifikasi, kaum tertindas menjadi alat dimanipulasi oleh sekelompok kecil pemimpin karismatik, termasuk para pemimpin “populis yang lazimnya tampak revolusioner .Padahal kenyataannya mereka berusaha mengendalikan dan memanipulasI revolusi demi tujuan-tujuan mereka sendiri.

Kata Freire : “Education does not change the world. Educations change people. People change the world.”

“Education does not make as educable, it is aweness of being unfinished that makes as educable”
(Pendidikan tidak membuat kita menjadi masyarakat terdidik, tapi yang disebut masyarakat terdidik itu kita masih merasa belum mengerti & sadar diri”)

 

Refrensi :

  • Wikipedia biografi paulo freire
  • Buku pendidikan kaum tertindas & pendidikan yang membebaskan
  • ngaji filsafat pedidikan dr fahruddin faiz

Tentang Penulis

Sahabat Fadhil

Mahasiswa Hedonis yang Berjiwa Aktivis

Komentar

  1. Di Indonesia, model pendidikan gaya Freirian banyak diterapkan dalam pendidikan luar sekolah, khususnya pendidikan yang berorientasi pada pemberdayaan masyarakat. Freire mengajarkan tiga hal penting dalam pendidikan, yaitu pemanusiaan (humanism) dimana manusia merupakan subjek utama perubahan sehingga pendidikan harus mampu memutus belenggu ketidakberdayaan dan budaya bisa masyarakat. Pendekatan post problem solving menjadi pintu masuk perubahan cara berpikir masyarakat. Kedua, membongkar struktur dan sistem sosial yang melahirkan ketidakadilan, seperti praktik kapitalisme-monopoli dan feodalisme-oligarkhi. Ketiga, kaum tertindas harus mempelopori perubahan sosial, bukan untuk menjadi penindas baru, tapi menciptakan tata kehidupan yang lebih adil, termasuk pengentasan kemiskinan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.